Tiadalah berarti jika kita hidup hanya untuk gengsi dan memenuhi ego semata.
Seakan-akan hanya mengikuti arus zaman karena tidak mau tertinggal.
Tanpa kita sadar, tidak dapat memfilter mana yang baik dan mana yang buruk.
Karena suatu kebiasaan bisa di anggap biasa meskipun sesuatu itu tidak baik menurut agama maupun norma.
Hingga kebiasaan yang membuat terlena.
Hanya untuk memuaskan diri, mengikuti nafsu yang tiada arah.
Mudah terombang-ambing, bagaikan buih di lautan.
Sebanyak apapun, akan lenyap sudah, hilang.
Seakan tidak mau ketinggalan tren kekinian.
Mengikuti arus pertemanan karena gaya hidup.
Mengenyangkan dahaga yang tiada henti.
Apalah daya tidak raih pun memaksa ada.
Membungkam bahwa diri tidak berada.
Hey...
Hanya begitukah tujuan hidupmu.
Tak perlu merasa aku, jika hanya ingin di akui.
Sampai tega abai pada keluarga.
Menutup mata seolah tak ada.
Menutup telinga seolah tuli.
Itu keluargamu, orangtuamu.
Tak pernahkah merasa.
Mengapa harus malu ?
Dengan kesederhanaan.
Bukankah lebih nyaman ?
Bersama keluarga saling menyayangi, melindungi, membersamai.
Mengapa harus acuh, karena malu.
Untuk apa ?
Tak perlu memaksa untuk berteman.
Tak perlu berubah hanya untuk pertemanan.
Jadilah dirimu sendiri.
Tak perlu merasa malu.
Kamu baik apa adanya.
Percayalah akan lebih banyak sahabat.
Hanya dengan kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan.
Tanpa menyuruh kamu untuk berubah.
Langit
Rabu, 16 Januari 2019
Minggu, 15 Juli 2018
Pertama
SENJA
Senja...
Katanya, banyak orang menjadi pemburunya
"penikmat senja"
Sebagai penutup hari yang mempesona,
mengagumkan, menyejukan
Keindahan Sang Pencipta
Senja...
Tentang berbagai kebaikan setiap orang
Yang menutup hari dengan rasa syukur
Dan menyambut hari esok dengan
senyuman
Senja...
Meski sering dikaitkan dengan sepintas
bayangan
Entah itu mengenang masa lalu sebagai
"kenangan"
Atau sebagai lamunan masa depan untuk
menaklukan "impian"
Cahaya Senja...
Langganan:
Komentar (Atom)
